Selasa, 29 Mei 2012

Analisis Jumlah Rekening Tabungan Masyarakat 10 Tahun Terakhir

Mata Kuliah : Bank dan Lembaga Keuangan 2
Kelompok    :
  1. Ayu Mulyaningsih
  2. Ely Puji Setianingsih
  3. Sartika
                Dalam artikel ini penulis akan menganalisis jumlah rekening tabungan (rupiah) masyarakat sepuluh tahun terakhir, yakni tahun 2002 sampai dengan tahun 2011. Data yang penulis soroti adalah jumlah rekening tabungan (rupiah) masyarakat di bank yang dikategorikan berdasarkan kepemilikannya (bank BUMN, bank swasta nasional, bank joint venture, dan bank pemerintah daerah). Data di penulis peroleh di www.bi.go.id. Berikut ini adalah diagram pie pemetaan jumlah rekening tabungan (rupiah) masyarakat tahun 2002-2011.

                Sedangkan berikut ini adalah grafik rekening tabungan (rupiah) masyarakat dari tahun ke tahun (2002-2011):
Grafik Jumlah Rekening Tabungan (Rupiah) Masyarakat dari Tahun ke Tahun (2002-2011)

Berdasarkan diagram pie dan grafik diatas, muncul beberapa pertanyaan yang hendak penulis analisis. Pertama, berdasarkan diagram pie mengapa masyarakat lebih banyak memilih bank BUMN?. Kedua, berdasarkan grafik diatas, terlihat jelas terjadi peningkatan jumlah tabungan setiap tahunnya di berbagai bank akan tetapi pada kurun waktu 2005 terjadi penurunan terutama di bank BUMN dan bank milik swasta nasional. Hal tersebut menimbulkan pertanyaan apa penyebab penurunan jumlah rekening tabungan tersebut terjadi? Dan yang ketiga adalah, berdasarkan grafik diatas terlihat jelas bahwa slope (kemiringan kurva) yang dibentuk oleh bank BUMN dan bank milik swasta nasional lebih curam dibandingkan dengan bank joint venture dan bank pemerintah daerah yang lebih landai. Pertanyaan yang muncul adalah mengapa kurva jumlah rekening bank BUMN dan swasta nasional lebih fluktuatif dan lebih curam kemiringannya dibandingkan dengan bank joint venture dan bank pembangungan daerah yang cenderung lebih landai dan statis?
Analisis :
Pertama yang akan penulis analisis adalah, diagram pie yang menunjukan pemetaan jumlah tabungan masyarakat. Terlihat jelas dalam diagram tersebut rekening tabungan masyarakat terbesar terdapat di bank BUMN dengan persentase 48%, kedua adalah di bank milik swasta nasional dengan persentase 44%, ketiga di bank pemerintah daerah dengan persentase 7%, dan terakhir adalah di bank joint venture dengan persentase 1%. Jumlah persentase tertinggi adalah di bank BUMN, dan terendah adalah di bank joint venture. Yang akan penulis analisis adalah, mengapa masyarakat lebih memilih bank BUMN pada bank lain untuk menyimpan tabungannya?
Dalam memilih bank untuk  dijadikan tempat menabung, banyak faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan tersebut. Faktor-faktor itu antara lain:
  •      kepercayaan masyarakat,
  •      keamanan dana,
  •      kualitas pelayanan,
  •      fasilitas, 
  •      teknologi, dan 
  •      suku bunga.
Kepercayaan masyarakat adalah faktor utama pemilihan suatu bank, masyarakat lebih banyak untuk memilih bank BUMN atau pemerintah karena bank BUMN dianggap lebih solid dalam menghadapi krisis. Kesolidan suatu bank dapat dilhat dari neraca keuangannya, kinerja bank tersebut, kemampuan likuiditas, solvabilitas, dan profitibilitasnya. Selain itu, masyarakat lebih percaya untuk menabung di bank BUMN karena dana yang disimpan aman dan dijamin oleh negara. Kualitas pelayanan juga menjadi salah satu faktor pertimbangan masyarakat untuk memilih suatu bank, semakin baik, ramah, cepat, dan sedikit terjadi kesalahan maka semakin banyak masyarakat yang memilih bank tesebut. Pelayanan yang diberikan kepada nasabah melalui kebijakan-kebijakan yang ada di bank pun mempengaruhi. Bank BUMN dikenal dengan kebijakan-kebijakannya yang lebih berpihak kepada rakyat karena bank BUMN memang di bawah naungan negara maka dari itu tak heran masyarakat banyak memilih bank BUMN. Bank BUMN, bank swasta nasional, dan bank pembangunan daerah lebih dikenal oleh masyarakat berbagai kalangan dari pada bank joint venture, bank joint venture biasanya kurang dikenal oleh masyarakat menengah kebawah oleh sebab itu tak heran diagram diatas menunjukan bahwa jumlah rekening masyakarakat di bank joint venture terendah. Dalam memilih bank untuk menabung masyarakat juga mempertimbangkan fasiltas bank tersebut, karena tak dipungkiri dalam kehidupan sehari-hari kita tidak bisa lepas dari kegiatan perbankan. Contoh sederhananya adalah sekarang ini masyarakat tidak bisa lepas dari kartu ATM, kartu debit, kartu kredit, kartu flash, dan fasilitas bank lainnya. Bank milik BUMN dan swasta nasional lebih banyak dipilih karena fasilitas-fasilitas tersebut mudah dijangkau dan ditemunya. Mesin ATM bank BUMN dan swasta nasional dapat ditemukan dengan mudah baik itu di tempat perbelanjaan, perkantoran, perumahan, POM bensin, dan lain sebagainya. Sedangkan mesin ATM dan transaksi menggunakan bank joint venture dan bank pemerintah daerah saat ini masih terbatas dan jarang ditemukan. Maka dari itu banyak masyarakat yang lebih memilih bank BUMN dan bank milik swasta nasional. Faktor teknologi pun ikut ambil dalam menentukan pemilihan bank, karena bank adalah salah satu badan yang sangat mengikuti perkembangan teknologi, semakin canggih dan cepat teknologi yang digunakan suatu bank maka semakin banyak pula masyarakat yang memilih untuk menabung di bank tersebut. Hal tersebut dikarenakan dengan adanya teknologi yang canggih, akan semakin mempermudah nasabah untuk melakukan transaksi. Contoh perkembangan teknologi di perbankan adalah adanya electronic money dan mobile banking. Dan yang terakhir yang menjadi faktor pertimbangan pemilihan bank untuk menabung adalah suku bunga tabungan yang diberikan oleh bank tersebut. Semakin tinggi bunga yang ditawarkan maka akan semakin banyak nasabah yang tertarik untuk menabung di bank tersebut. Dari uraian diatas, jelas sekali terpapar alasan mengapa masyakat lebih banyak memilih bank BUMN dan BUSN untuk menyimpan dananya.
Yang kedua, dari grafik di atas dapat diketahui bahwa jumlah tabungan di BPD dari tahun ke tahun mengalami kenaikan hingga tahun 2011. Bank Joint Venture juga mengalami kenaikan hingga tahun 2011, tetapi kenikannya tidak terlalu signifikan dan masih terlalu rendah jika dibandingkan dengan bank BUMN, BUSN, dan BPD. Pada tahun 2002, tabungan di Bank BUMN dan BUSN mengalami kenaikan hingga tahun 2004 yang kenaikannya dinilai hampir sama. Akan tetapi, di tahun 2005 tabungan di bank BUMN dan BUSN mengalami penurunan. Mengapa bisa terjadi penurunan? Berikut ini adalah beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat tabungan secara umum, antara lain:
  •     Tinggi rendahnya pendapatan masyarakat
  •      Tinggi rendahnya suku bunga tabungan
  •      Adanya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap suatu bank
  •      Inflasi
Hal yang mempengaruhi penurunan tabungan masyarakat di Bank BUMN dan BUSN di tahun 2005  antara lain:
  •      Rendahnya pendapatan masyarakat
  •      Rendahnya tingkat suku bunga tabungan di bank tersebut
  •   Rendahnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap bank BUMN dan BUSN yang mungkin pelayanannya dinilai rendah di tahun tersebut, sehingga masyarakat lebih memilih untuk tidak menyimpan uangnya di bank tersebut
  •     Pada tahun 2005 terjadi inflasi terbesar semenjak pasca reformasi dikarenakan kenaikan harga barang kebutuhan meningkat sejalan dengan disusulnya kenaikan harga Bahan Bakar Minyak
Ada kemungkinan juga masyarakat lebih memilih menabung di bank Joint Venture atau BPD, hal ini bisa dilihat dari grafik, terbukti dengan menaiknya jumlah tabungan di kedua bank tersebut walaupun kenaikannya tidak signifikan.
Ketiga, dari grafik tersebut dapat kita temukan suatu fenomena yaitu BUMN (Bank Umum Milik Negara) dan  BUSN (Bank Umum Swasta Negara) memiliki grafik yang lebih fluktuatif dan lebih curam kemiringannya dibandingkan BJV (Bank Joint Venture) dan BPD (Bank Pembangunan Daerah) yang grafiknya lebih landai.  Bentuk grafik BUMN dan BUSN yang terlalu berfluktuatif mencerminkan delta atau perubahan-perubahan yang cukup signifikan dan tidak stabil sedangkan Bentuk grafik BJV dan BPD lebih stabil perubahannya dari tahun ke tahun. 
Fenomena curamnya kemiringan slope BUMN dan BUSN dari gambaran grafik tersebut, jika kita amati maka ada kecenderungan signifikan naik atau turunnya jumlah rekening tabungan masyarakat dari tahun ke tahun. Hal ini menimbulkan pertanyaan atas latar belakang munculnya fenomena tersebut. Kita dapat menyoroti dari kebijakan bank BUMN dan BUSN dalam menaikan dan menurunkan tingkat bunga, maka hal ini sangat berdampak terhadap jumlah kenaikan dan penurunan rekening tabungan. Berdasarkan diagram pie telah dijelaskan sebelumnya mengenai faktor-faktor apa saja yang membuat masyakat lebih banyak memilih bank BUMN dan BUSN untuk menyimpan dananya. Ketika BUMN dan BUSN karena alasan terlalu banyaknya uang yang masuk atau cash inflow maka dikhawatirkan menumpuknya uang di bank BUMN tidak sebanding dengan peminjam dana atau cash outflow sehingga bank membuat kebijakan menurunkan tingkat bunga sehingga terjadi penurunan jumlah rekening tabungan yang signifikan. Dan sebaliknya ketika bank membuat kebijakan untuk menaikan tingkat suku bunga maka terjadi penurunan grafik yang curam pada tingkat rekening tabungan.
Fenomena pada BJV (Bank Joint Venture) dan BPD (Bank Pembangunan Daerah) yang grafiknya lebih landai. Berdasarkan diagram pie telah dijelaskan sebelumnya mengenai faktor-faktor apa saja yang membuat BJV dan BPD kurang diminati oleh masyarakat untuk menyimpan dananya. Umumnya, BJV dan BPD memberikan perubahan tingkat bunga yang cukup stabil yang  berbeda dengan fenomena BUMN dan BUSN yang memiliki sangat  banyak rekening tabungan dari masyarakat sehingga saat terjadi kenaikan atau penurunan bunga tabungan akan sangat signifikan terhadap minat masyarakatnya. Khususnya jika disoroti pada BPD yang mencakup wilayah daerahnya saja sehingga biaya administrasi, tekhnologi informasi, dan fasilitas yang digunakan cenderung rendah dan otomatis tingkat bunga bank akan cenderung stabil. Fenomena Pada BJV (Bank Joint Venture) yaitu tingkat kestabilan suku bungan membuat jumlah rekening tabungan meningkat dengan landai.